Cerpen_Sujud di Pangkuan Ibu

SUJUD DI PANGKUAN IBU
Oleh    : Muhammad Yusuf Rangkuti

Semburat jingga membias di ufuk timur, meskipun alam masih berselimut gelap, Rahmat sudah bersiap-siap pergi dari desa untuk mengadu nasib di kota seberang demi mendapatkan uang untuk kehidupan ibu dan adiknya, karena saat ini Rahmat yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Ibunya yang sudah semakin lemah dan sakit-sakitan karena usia yang mulai tua dan adiknya yang mengalami penyakit gangguan mental.
Aminah berpesan kepada Rahmat agar selalu mengirim kabar padanya melalui surat dan jangan sampai melupakan ibu yang telah membesarkannya hingga sekarang. Aminah yang sudah sakit-sakitan itu ditinggal bersama Dodi yang sedari kecil menderita gangguan pada mentalnya. Aminah sering berkata pada Dodi bahwa ia adalah anak yang istimewa.
Kota adalah tempat yang asing bagi orang perdesaan seperti Rahmat. Ia melamar pekerjaan di salah satu perusahaan besar di kota itu, setelah interview selesai, ternyata ia segera diminta untuk bekerja di esok hari. Hari itu adalah hari pertama Rahmat memulai pekerjaannya. Selama Rahmat bekerja di perusahaan itu, Herman (Bos Rahmat) sangat bangga dengan hasil kerja Rahmat yang selalu membaik di tiap harinya. Herman memiliki seorang gadis yang sangat cantik, namun kelakuannya yang jauh berbanding terbalik dengan wajah cantiknya itu membuat Herman khawatir akan masa depan anaknya itu, Herman berniat untuk menjodohkan Rani dengan Rahmat, karena Herman percaya bahwa Rahmat dapat memperbaiki perangai Rani yang suka dugem, mabuk-mabukan, dan pulang selalu larut malam.
Rahmat dipanggil oleh Herman agar segera menemuinya di ruangan tempat Herman bekerja.
Tok.. tok..., bunyi suara ketukan pintu dari luar
“Silahkan masuk” sahut Herman. Rahmat segera masuk dan di persilahkan untuk duduk oleh Herman.
“Apa yang bisa saya bantu Pak?” tanya Rahmat, heran.
“Ada bisnis besar yang ingin saya tawarkan untukmu mat” jawab Herman.
“Apa itu pak?”
“Saat ini aku sudah beranjak tua dan mulai sakit-sakitan, jadi apakah kamu mau menikah dengan putriku?, Jika kau mau maka harta dan seluruh aset perusahaan yang aku miliki akan aku serahkan untukmu.” Rahmat membisu dan tidak dapat menjawab tawaran dari pak Herman.
“Bagaimana mat?” Rahmat terkejut.
“Baiklah pak” jawab Rahmat dengan nada keraguan.
“Terimakasih mat, besok akan saya temukan kamu dengan Rani”
Rani adalah anak yang keras kepala dan paling tidak mau diatur-atur, ia sebenarnya tidak mau dijodohkan oleh ayahnya, akan tetapi jikalau ia tidak menikah dengan Rahmat, ayahnya akan menyalurkan seluruh hartanya ke panti asuhan, dan Rani tidak setuju untuk hal itu.

Rani dan Herman sudah duduk dan berbincang dengan serius di meja restauran itu, dan kemudian Rahmat datang.
“Silahkan duduk mat” ujar Herman.
“Baiklah pak”
Mereka membicarakan mengenai tanggal pernikahan itu.
Hampir sebulan hari pernikahan mereka telah berlangsung, tetapi Herman tidak pernah menyentuh istrinya sedikit pun, itu dikarenakan Rani yang tidak menyukai Rahmat dan niatnya untuk menikahi Rahmat demi mendapatkan harta yang telah di berikan ayahnya kepada Herman. Rani selalu membangkang perkataan Rahmat, bahkan tak jarang ia memperbudak Rahmat dirumahnya sendiri.Rahmat mengirimkan sebuah surat dan foto istrinya kepada sang Ibu di kampung sekaligus memberitahukan kepada ibunya bahwa ia telah menikah dengan seorang gadis cantik.
Tas hitam milik perempuan berkerudung itu terjatuh karena Rahmat menabraknya, Rahmat segera menggapai buku-buku yang jatuh itu untuk membantu Aisyah. Rahmat segera meminta maaf kepada Aisyah, kemudian mereka berkenalan, ternyata Aisyah adalah rekan bisnisnya Rahmat.
Pertemanan antara Aisyah dan Rahmat semakin erat, dan mulai tumbuh rasa cinta di antara mereka. Di restauran itu Rahmat mengatakan bahwa ia ingin menikahinya dan Aisyah mengangguk kecil mendengar perkataan itu.
Rahmat sangat bahagia karena memiliki istri yang sholehah seperti Aisyah, akan tetapi berbanding terbalik dengan istri pertamanya Rani, Rahmat sangat betah tinggal di rumah Aisyah. Siang itu Rani melihat Rahmat bersama Aisyah di dalam mobil, rani penasaran dan ingin menyelidiki ada hubungan apa diantara Rahmat dan Aisyah.
Handphone Rahmat yang terletak di tempat tidur itu diperiksa oleh Rani, setelah memeriksa handphone tersebut akhirnya Rani mengetahui semua rahasia Rahmat. Kemudian Rani mendatangi rumah kediaman Aisyah, lalu mencoba untuk mencelakakan Aisyah. Rani berencana untuk memfitnah Aisyah karena telah berhubungan dengan pria lain di saat Rahmat tidak ada di rumah dengan memberikan bukti berupa foto palsu itu Rani berhasil untuk membuat Rahmat marah.
Rahmat menuju rumah Aisyah dan langsung marah-marah, dan hal yang paling mengejutkan, Rahmat langsung mentalak Aisyah dengan talak tiga, sementara  pada saat itu Aisyah sedang mengandung anak dari Rahmat. Rahmat berada dalam masalah yang amat besar.
Perempuan hamil itu berjalan keluar dari rumah untuk menuju kampung halamannya, Rani yang sedang mengendarai mobilnya berniat untuk mencelakakan Aisyah, Aisyah tergeletak dengan bercucuran darah dari perutnya menuju kakinya, kemudian warga menolongnya dan membawanya kerumah sakit terdekat.
Penyakit Aminah semakin parah, dan ia selalu merintih kesakitan sambil memanggil Rahmat, Rahmat tidak pernah pulang ke kampung untuk menjenguk Ibunya, bahkan tidak pernah lagi memberi kabar kepada Aminah melalui surat. Aminah ingin pergi bersama Dodi besok ke rumah Rahmat di kota.
Hujan lebat itu membasahi seluruh tubuh Aminah dan Dodi yang sedang mencari alamat anaknya di keramaian kota itu, Aminah memandang rumah besar yang ada dihadapannya, setelah ia melihat catatan alamat di kertas kecil yang dibawanya ternyata benar bahwa rumah itulah rumah Rahmat.
Tok ... tok ... tok ... (terdengar suara ketukan pintu, dan Rani segera membuka pintu)
“Kalau mau mengemis jangan di sini, pergi sana !” Rani mengusir mertuanya itu.
“Nak ... Saya Ibunya Rahmat, Rahmatnya ada?”
“Tidak ada, ini bukan rumah Rahmat” Jawab Rani dengan keras. Rani membuang barang-barang bawaan dari tangan Aminah, Wanita tua itu menangis.
Mobil Rahmat masuk menuju rumah, Rahmat terkejut ternyata diluar rumahnya ada Ibu dan Adiknya basah kuyup diguyuri hujan, Rahmat menyuruh Ibu dan adiknya masuk tetapi Rani melarang dan mengancamnya, jika rahmat tetap membawa Aminah dan Dodi masuk, maka ia akan menggugat cerai Rahmat, jika Rani menggugat cerai Rahmat, maka seluruh harta yang di berikan Almarhum ayah Rani kepada Rahmat akan disumbangkan ke Panti Asuhan.
Akhirnya Rahmat dengan terpaksa mengusir orang yang selama ini telah mengandung, membesarkan, dan merawatnya hingga besar hanya demi harta. Rani terus berusaha agar Rahmat segera menceraikannya, karena dulu almarhum ayah Rani memberi wasiat bahwa “Apabila Rani meminta kepada Rahmat untuk menceraikannya maka seluruh harta yang diberikan kepada Rahmat akan diserahkan kepanti asuhan, dan apabila Rahmat yang menceraikan Rani maka seluruh harta yang Rahmat miliki akan jatuh ketangan Rani”.
Rahmat datang untuk melihat Aisyah dirumahnya, dan Rahmat terkejut ternyata Aisyah sudah tiada di rumahnya, Rahmat menyesal atas segala perbuatannya yang telah meninggalkan istrinya yang sangat sayang kepadanya, ia bertaubat kepada Allah karena ia telah menjadi anak yang durhaka dan suami yang tidak bertanggung jawab.
Rahmat menyerah karena tidak dapat menjadikan Rani menjadi orang yang lebih baik sesuai dengan pesan Almarhum ayahnya Rani, ia menandatangani surat perceraian yang telah disediakan Rani sedari dulu, itulah hal yang ditunggu-tunggu Rani dan sangat ia inginkan. Akhirnya Rani resmi bercerai dengan Rahmat.
Rahmat keluar meninggalkan rumah yang telah diberikan untuknya, dan ia kembali ke kampung untuk melihat keadaan ibunya. Sebelum Rahmat sampai ke rumah, nasip berkata lain Aminah untuk terakhir kalinya menghembuskan nafasnya di dunia, ketika Rahmat sampai ke rumah ia melihat Ibunya terbaring di lantai ruang tamu kemudian Rahmat besujud di pangkuan Ibunya untuk terakhir kalinya. Rahmat menyesal atas semua yang terjadi pada dirinya dan ia berjanji akan menjaga Dodi dengan baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telaga Sarangan : Telaga Cantik di Kaki Gunung Lawu